Home
PLPG Teknologi Informasi dan Komunikasi Berbasis Open Source Software

Solo– Terhitung sejak tanggal 5 Juli 2010, Panitia Sertifikasi Guru Rayon 13 Solo mengadakan Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) kuota tahun 2010. Kegiatan PLPG ini dilaksanakan sebanyak 5 tahap dengan jumlah peserta sebanyak 3.562 orang baik dari Diknas maupun Depag dari berbagai mata pelajaran yang disertifikasi.

Untuk mata pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), pelatihan dengan materi full open source pada sesi pendalaman materi (kompetensi profesional). Dimana materi ini dirancang dan disesuaikan dengan memperhatikan kisi-kisi yang telah diberikan oleh Konsorsium Sertifikasi Guru (KSG) Kementerian Pendidikan Nasional. Misalnya, untuk kompetensi pengolah kata diberikan materi mengenai OpenOffice.org Writer, pengolah angka menggunakan OpenOffice.org Calc, pengolah presentasi menggunakan OpenOffice.org Presentation serta pengolah grafis menggunakan GIMP dan Inkscape. Bertempat di Laboratorium komputer Open Source yang dimiliki oleh FKIP UNS, materi disampaikan sekaligus dengan praktek agar peserta lebih memahami penggunaan open source software. Pada kesempatan ini, dibagikan pula CD Blankon 5 Nanggar sebagai bekal bagi para guru untuk mulai memanfaatkan open source.

Ada sedikit keraguan dari guru-guru peserta PLPG pada saat awal mengikuti materi ini. Karena sebelumnya, belum ada yang pernah berinteraksi dengan open source software secara langsung. Umumnya pada saat mengajar, guru-guru peserta PLPG tidak menggunakan open source software ini. Mereka lebih banyak menggunakan sistem operasi Windows menyesuaikan dengan kebijakan MGMP di daerah masing-masing, dan penggunaan proprietary software tersebut dilakukan dengan ilegal karena mereka menggunakannya tanpa membayar lisensinya. Tanpa disadari, hal iniberarti para guru telah melakukan perbuatan ilegal danmenyebarluaskan pembajakan kepada para siswanya.

Setelah mengikuti materi ini serta mendapatkan penjelasan mengenai open source software dan program Indonesia, Go Open Source!, peserta tampak antusias untuk mengenal open source dan program aplikasi yang ada didalamnya lebih lanjut. Beberapa guru juga mulai menanamkan komitmen untuk menggunakan Open Source Software disekolahnya dan merubah kebijakan MGMP didaerahnya untuk menggunakan Open Source dalam kurikulum mata pelajaran TIK. Dan yang lebih penting lagi, diharapkan para guru peserta PLPG TIK ini juga dapat menyampaikan pesan moral untuk siswa dan lingkungannya agar menggunakan perangkat lunak yang legal.

Mempelajari dan menggunakan sesuatu yang baru memang tidak semudah membalik telapak tangan. Perlu proses dan waktu untuk belajar. Begitu pula dengan penggunaan aplikasi open source dikalangan pendidikan. Para pengajar yang telah menguasai aplikasi professional yang berbayar perlu kembali mempelajari dan membiasakan diri dalam menggunakan aplikasi open source sebagai alternatif sewaktu mengajar. Harapannya materi PLPG ini dapat menjadi pemantik bagi para pengajar untuk mempelajari lebih mendalam mengenai open source. Kami juga tidak menutup kemungkinan adanya konsultasi tentang open source di luar materi yang disampaikan.

Kendala dan masalah yang dihadapi bisa saja tetap ada misalnya kemampuan dan fasilitas dari aplikasi open source belum sebanding dengan yang dimiliki oleh aplikasi berbayar yang biasa digunakan. Namun sebagai perangkat lunak yang lahir dari komunitas pengembang opan source diseluruh dunia, kemampuan, perbaikan, dan fasilitas yang ada akan terus bertambah. Bukan tidak mungkin kemampuannya akan mengalahkan software komersil yang ada. Ya kita tunggu saja perkembangannya. Semoga aplikasi open source dapat menjadi alternatif dalam pemakaian software yang legal di kalangan pendidikan. Berawal dari para pendidik yang sadar akan pentingnya mendidik anak bangsa untuk menjadi bangsa yang jujur dengan semangat berbagi dan terbuka dengan segala hal.

(sumber: Facebook, Agus Tri, 14 Agustus 2010)

 
Jangan Samakan Open Source dengan Pembajakan!

Jakarta - Indonesia Open Source Award 2010 atau lebih dikenal dengan IOSA 2010 baru saja usai digelar. Ajang pemberian award bergengsi untuk instansi pemerintahan ini dilaksanakan untuk memberikan stimulan positif bagi instansi-instansi pemerintah agar berlomba-lomba menjadi instansi yang mengedepankan penggunaan Free Open Source Software (FOSS) dalam aktifitasnya.

IOSA 2010 juga merupakan tindak lanjut dari program Indonesia Go Open Source (IGOS). Sekedar diingat, IGOS adalah sebuah gerakan yang dideklarasikan oleh lima kementerian sekaligus pada 2004. Selain itu, IOSA 2010 juga dilaksanakan atas dasar Surat Edaran Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara (Menpan) No.SE/01/03/M.PAN/2009 tentang 'Penggunaan dan Pemanfaatan Perangkat Lunak Legal dan Open Source Software (OSS)'. Hingga saat ini IOSA dibagi menjadi beberapa kategori, yaitu kategori Kementerian, Kabupaten hingga sekolah-sekolah.

Salah satu alasan digalakkannya seruan penggunaan FOSS ini adalah masalah biaya. Kementerian Negara Riset dan Teknologi mengklaim dengan penggunaan FOSS di instansi pemerintahan, anggaran kebutuhan perangkat lunak dapat dipangkas hingga Rp 3,6 triliun. Fantastis!

Dari surat edaran Menpan tersebut, Indonesia dijadwalkan akan menjadi negara yang menggunakan FOSS sebagai perangkat lunak utama dalam aktivitas sehari-hari di seluruh instansi paling lambat Desember 2011. Berbagai proses terus dilakukan mulai dari pelatihan sumber daya manusia hingga proses migrasi sendiri. Kabupaten-kabupaten mulai bekerja sama dengan komunitas-komunitas untuk bersama-sama melakukan proses migrasi dan pelatihan.

Di saat berbagai instansi bersemangat untuk beralih ke FOSS, sebuah ancaman datang dari IIPA (International Intellectual Property Alliance), lembaga internasional yang memayungi MPAA dan RIAA. IIPA telah mengajukan kepada Lembaga Perdagangan Amerika Serikat untuk memasukkan Indonesia ke dalam 'Special 301 Priority Watch List'. 'Special 301 Priority Watch List' adalah daftar hitam negara-negara yang dinilai tidak melindungi hak atas kekayaan intelektual (HAKI). Negara-negara yang masuk dalam daftar ini kemudian akan ditekan oleh Amerika untuk mengubah kebijakan perlindungan atas HAKI.

Biasanya, negara yang dimasukkan dalam daftar ini adalah negara dengan tingkat pembajakan yang cukup tinggi. Namun, kali ini IIPA mengajukan Indonesia ke daftar tersebut karena gerakan IGOS. IIPA menyebut dengan program IGOS Indonesia telah melemahkan industri software dan Indonesia dinilai gagal menghormati HAKI.

Pernyataan ini tentu saja aneh. Open Source adalah kekayaan intelektual dan pengguna maupun pengembang menaruh hormat atas kekayaan intelektual ini. Melalui pernyataan tersebut, IIPA secara tak langsung menyamakan gerakan IGOS dengan pembajakan. Menyamakan Open Source dengan pembajakan adalah sebuah pernyataan yang berlebihan.

Open source adalah perangkat lunak berlisensi. Yang membedakan antara perangkat lunak Open Source dan proprietary adalah kebijaksanaan pembuat. Dengan Open Source, pembuat perangkat lunak bebas menentukan bagaimana produk tersebut digunakan, diubah ataupun digandakan dengan rambu-rambu yang ada. Produk Open Source juga bisa mengalami pembajakan seperti kasus thesis yang melanggar lisensi dari WordPress Juli lalu. Hukum yang melindungi produk Open Source dalam hal pembajakan juga sama dengan hukum untuk produk proprietary.

Perlu diketahui juga bahwa Amerika sendiri memiliki program Open Source for America (OSFA). Program ini telah berjalan satu tahun dan 2010 mereka mengadakan penghargaan untuk berbagai lembaga dan individual. Sama dengan program IGOS, OSFA juga mencoba menggalakkan penggunaan FOSS di lembaga-lembaga negara. Lagipula, kalau Indonesia dimasukkan dalam daftar Special 301 Watch List karena program IGOS, mengapa Amerika dengan program OSFA tidak?

 (sumber: detikinet, 13 Agustus 2010)

 

 
Sistem Operasi Symbian Kini Open Source

Symbian Foundation menyingkap kode sistem operasi ponsel yang paling populer di seluruh dunia, Symbian. Kini, sistem operasi Symbian yang bernilai miliaran dolar Amerika, dibuka secara gratis.

 (sumber gambar: dendithome.blogspot.com)

Symbian Foundation memang telah merencanakan hal ini sejak tahun lalu, dan kini Symbian telah benar-benar menjadi sistem operasi yang terbuka, sehingga setiap orang bisa memanfaatkan kode yang dibuka dan memodifikasi platform tersebut.

Langkah ini ditempuh untuk menarik lebih banyak pengembang yang bekerja di ekosistem ini untuk membantu pengembangan platform Symbian ke depan. "Ini adalah upaya migrasi open source terbesar yang pernah terjadi," ujar Lee Williams dari Symbian Foundation, seperti dikutip oleh situs BBC.

Pasalnya, Williams mengklaim ada lebih dari 330 juta ponsel berbasis Symbian yang kini beredar di seluruh dunia. Dengan meng-open source-kan Symbian, ia berharap akan dapat mendongkrak peningkatan inovasi di platform ini.

Tak hanya itu, langkah ini diharapkan juga mampu memperkuat kembali posisi Symbian, di saat pamornya yang semakin melorot, akibat persaingan dengan Google Android dan Apple iPhone.

"Langkah ini sangat berguna bagi Symbian, seperti yang telah dilakukan Google dengan sangat baik dengan Androidnya," kata analis dari Forrester Research dikutip dari BBC.

Symbian Foundation sendiri terdiri dari beberapa pihak, yaitu Nokia, AT&T, LG, Motorola, NTT Docomo, Samsung, Sony Ericsson, STMicroelectronics, Texas Instruments, dan Vodafone.

Williams mengatakan, SYmbina Foundation tetap akan memonitor ponsel-ponsel yang memanfaatk platform ini untuk memastikan mereka memenuhi standar minimum.

Pengembangan Symbian sendiri saat ini masih didominasi oleh Nokia. Namun dengan terbukanya kode sistem operasi ini, Symbian foundation berharap, ini akan dapat semakin dikurangi hingga hanya "tak lebih dari 50 persen" hingga pertengahan 2011.

(sumber: VIVAnews, 5 Agustus 2010)
 
« StartPrev12345678910NextEnd »

Page 3 of 114

Visitors Counter

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterToday4
mod_vvisit_counterYesterday36
mod_vvisit_counterThis week196
mod_vvisit_counterThis month448
mod_vvisit_counterAll29441

Visitors Online

We have 4 guests online